Sabtu, 01 Oktober 2016

SURAT PERINTAH TUGAS SEKOLAH

PEMERINTAH KABUPATEN NIAS UTARA
DINAS PENDIDIKAN
                                            SDN No. 071029 FULOLOSALOO



SURAT PERINTAH TUGAS
Nomor  : 422/       /PD/2016


            Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala Sekolah SDN 071029 Fulolosalo’o Kecamatan Sitolu Ori Kabupaten Nias Utara, menugaskan kepada :
                        Nama                                      : Aswira Kristiani Gea, S.Pd.K
                        NUPTK                                  : 0553 7616 6230 0043
                        Jabatan                                   : Guru Kelas I (Satu)
                        Unit Kerja                              : SDN No. 071029 Fulolosalo’o

untuk mengikuti pelaksanaan Pelatihan Kurikulum 2013 di Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Utara.
           
            Demikian Surat Perintah Tugas ini dibuat untuk dapat  dipergunakan seperlunya.
                                                                                    
                                                                                    
                                                                                     Dikeluarkan di     : Fulolosalo’o
                                                                                     Pada Tanggal       : 27 Juni 2016


                                                                                            Kepala Sekolah
                                                                                                     

                                                                                                     
                                                                                    
                                                                                     ASATIA TELAUMBANUA. S.Pd
                                                                                     NIP 19670331 199403 2 005


      Peribahasa Nias : Abila Horikina manu, adὁlὁ duga zilatao. Tefuyu mbagi hendrifo bawamuyu-muyu gego “ Maknanya Dikatakan kepada orang yang perkataannya tidak menentu dan suka memutar balikkan kebenaran. 

KHOTBAH BNKP MINGGU 2 OKTOBER 2016


Pribahasa Nias mengatakan " Bawa ba gabera luo ba gambolo halὁ ayau natola ὁhalo, saukhu moroi ba galitὁ"  maknanya dikatakan kepada seseorang agar dia pandai memilih nasihat-nasihat yang baik
ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH PERCAYANYA

Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu tulisan seorang teman di Facebook. Isi tulisan itu adalah komentarnya tentang beberapa kalimat iklan yang tampak ‘wah’. Beberapa mau saya sebutkan sekarang: 
1. “Orang pintar minum ...” 
Jadi, kalau kita gak minum produk itu, kita belum termasuk orang pintar. Padahal apa kaitannya antara tumbuh kembang otak dengan produk yang tujuan sebenarnya itu adalah untuk mencegah (bukan menyembuhkan lho), masuk angin? Gak ada kaitannya sama sekali!
2. “Kulit tetap sehat, cerah dan kencang” 
Jadi, kalau kita gak pake produk itu, semua kita pasti punya kulit yang ‘tidak selalu cerah, kusam dan tak kencang’. Padahal, masalah umur semua orang kan tidak bisa bohong ya. Menua itu adalah keharusan memang. 
3. “Wajahmu mengalihkan duniaku” 
Coba aja dipake itu produknya ... bener gak kejadian? Kita pake, kemudian wajah kita menjadi mengalihkan dunia (perhatian) orang lain di sekitar kita waktu itu ... Beneran? 
Mungkin kita semua bisa bilang, “Ya pak .. namanya juga iklan!” ... Iya bener, itu iklan doang ... iklan yang pake kalimat ‘wah’, walau itu belum tentu benar .. dan setiap kita bisa saja jadi percaya dengan ungkapan ‘wah’ dari iklan-iklan itu ... akhirnya beli-beli juga kan ... 
Dalam teks Alkitab kita hari ini, ada satu kalimat yang tampak wah juga dari Tuhan untuk umat Israel dan nabi Habakuk di masa itu (dan pastinya kalimat yang tampak wah itu pun masih tampak mempesonakan semua orang percaya dari masa ke masa) ... 

Yang mana? Habakuk 2:4c 
“Orang benar akan hidup oleh percayanya”. 
Tampak wah? Sepertinya ... Tampaknya menenangkan, mendamaikan ... tetapi kalau kita mau melihat alur kisahnya ... ternyata gak mudah sama sekali lho meng-amin-kan pernyataan ‘wah’ dari Tuhan itu. 
Mari kita mulai melihat dari Habakuk 1 perikop yang pertama (1:1-4) 
Habakuk mengeluhkan tentang ketidaksetiaan. Saya kira perikop paling awal dari Habakuk 1 ini adalah keluhan Habakuk karena Allah yang tampak tak peduli karena Israel dipenuhi oleh orang-orang yang tidak setia, orang fasik (bnd. ayat 2) 
Perikop yang selanjutnya dari Habakuk 1 (1:5-11) 
Allah mulai angkat bicara. Dia mulai marah dan menghukum Israel. Bacalah 1:6-11 ... Israel yang jahat dan tidak setia itu dihukum oleh Tuhan dengan cara mengirim suatu bangsa yang garang dan jahat pula. 
Perikop yang selanjutnya lagi dari Habakuk (1:12-17) 
Habakuk mempertanyakan ‘dimana letak keadilan Tuhan?’ Ketika orang benar yang hidup di Israel sudah hidup sengsara – menderita karena ditindas oleh orang Israel yang fasik, ... dan sekarang? Orang yang benar di Israel pun kini harus menghadapi kenyataan: “Tuhan menghukum Israel dengan mengirim satu bangsa yang garang – jahat juga”. Itu artinya penghukuman Allah juga akan ber-efek dalam kehidupan orang benar yang terkena dampak (pastinya) dari cara Allah menghukum orang Israel yang fasik. 
Barulah dalam perikop selanjutnya (2:1-5), setelah kita tahu bahwa itulah rencana penghukuman Allah kepada Israel (artinya hukuman itu belum terjadi hari itu, lihat 2:3) ... Barulah Tuhan mengatakan kepada Habakuk – pasti dengan maksud untuk menentramkan hati Habakuk – dengan kalimat dalam 2:4c, “orang benar akan hidup oleh percayanya”. 
Saya mau tanya ... Jika bapak dan ibu adalah Habakuk dan orang Israel di masa itu (katakanlah bapak dan ibu, kita semua ada di posisi ‘orang benar’nya) ... apakah bapak dan ibu sudah bisa jadi damai dan tenteram dengan perkataan Tuhan yang tampak ‘wah’ itu? 
Jadi kira-kira begini: 
Orang benar sudah tertindas oleh orang fasik. Itu menyesakkan pastinya. Kemudian Tuhan membeberkan rencana-Nya kepada Habakuk bahwa nanti Israel akan mendapatkan hukumannya. Dan ketika Tuhan menjalankan hukuman itu, dengan mengirim bangsa yang lebih garang lagi untuk menaklukkan Israel, itu berarti berasa juga dalam hidup orang benar di Israel. Sudah menderita, nanti malah makin menderita lagi. 

Sudah dapat rasa tenteram dan damainya? Mungkin belum ... 
Karena apa yang dikatakan Tuhan tentang rencana-Nya ke depan bagi Israel waktu itu, bukanlah menyulap keadaan jadi serba baik. Dia tidak sedang merencanakan mengubah ‘hutan’ menjadi ‘Taman Impian Jaya Ancol’. Bukan. Justru yang akan Allah lakukan adalah ... menghukum Israel melalui penderitaan. Bukan dilepaskan dari penderitaan, tetapi malah terkesan jadi bertambah itu penderitaannya. Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah ... mereka (orang benar) yang sudah menderita akan menjadi semakin menderita karena tindakan Allah kepada orang fasik yang ... seperti yang sudah dinyatakan tadi ... yang berefek pula pastinya dalam hidup orang Israel yang dikatakan ‘orang benar’ itu. Bukan mereka yang mau dihukum, tetapi mereka kena dampaknya aja ... 


Jadi apa yang bisa menentramkan hati, jika situasinya menjadi sedemikian buruknya? 
Jika realitas penderiitaan dalam perikop yang kita sudah ulas tadi, pasti akan jauh lebih mudah meng-amin-an kalimat ‘wah’, “orang benar akan hidup oleh percayanya”. Tetapi kan kenyataan dalam perikop kita tidak seperti itu: Bukan menjadi hilang penderitaannya, malah terkesan ‘mau ditambahin’ ... 
Saya mau mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal ... 

(1) Mari kita yakini bahwa Allah akan selalu bertindak adil ditengah rasa ketidakadilan dalam hidup ini. 

Coba saja lihat perikop selanjutnya (2:6-20) ... Kepada siapa Tuhan marahnya? 
Ayat 6: “celakalah orang yang menggaruk ...” 
Ayat 9: “celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal ...” 
Ayat 12: “celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah ...” 

Siapa yang dimarahi oleh Tuhan? Bukan orang benar. 
Itu artinya dengan cara-Nya yang mungkin kita gak akan bisa mengerti kali ya, Tuhan akan menjagai hati dan pikiran orang percaya ketika mereka berada di posisi yang ‘sudah sulit dan menjadi semakin sulit’ ... sebab bukan kepada merekalah Tuhan marah. 

Kenapa itu bisa terjadi? 

(2) Karena yang namanya kebenaran, walau digoyang dengan cara apapun, dia akan tetap mampu bertahan dan berlanjut. 

Saya suka cerita tentang petani kentang yang setelah panen, seluruh kentangnya itu diangkut ke bak mobilnya untuk di bawa ke pasar. Seseorang bertanya: “Pak petani, gak repot nanti memisahkan mana kentang yang besar dan mana kentang yang kecil?” Kemudian petani itu menjawab: “Oh, tentu saya tidak akan repot memisahkan lagi, sebab nanti selama perjalanan menuju pasar, akan ada begitu banyak goncangan karena jalan yang tidak rata yang akan dilalui oleh mobil angkut ini. Kentang yang besar akan selalu tampil ke permukaan, sedangkan kentang yang kecil akan menjadi turun ke bawah dengan sendirinya. Gak repot kok.” 

Itulah kebenaran dari kalimat “orang benar akan hidup oleh percayanya.” Dia tidak akan mudah goyah karena guncangan, justru guncangan itulah yang membuat akhirnya mereka mampu tetap bertahan dan selalu mampu muncul kembali ke permukaan (tidak tenggelam). 

Apa yang kita percaya jika kita hari ini merasa sudah melakukan yang benar, tetapi keadaan belum berubah sama sekali? “Aku akan semakin terpuruk!” atau “Tuhan akan membangkitkan kembali kehidupan kami”. Bapak dan ibu mau pilih yang mana? Hati-hati, sebab dua-duanya bisa menjadi kebenaran dalam hidup kita jika kita mempercayai hal itu. 

                                                                                 
                                                          TUHAN YESUS MEMBERKATI



TAROMALI LOWALANGI NIBASO MINGGU 2 OKTOBER 2016


A. Nibaso sifὁfὁna Hezekieli/Yehezikie 18 : 21-29 :

21.   Ba na ifalalini gera’erania sebua horὁ, na ibὁhὁli horὁ andrὁ nifazὁkhinia mege, ba na itὁngὁni nifakhoigu ba na ilau zadὁlὁ ba satulὁ, ba auri ia, lὁ mate.
22.   Fangerogὁnia andrὁ, buabuania mege, ba lὁ‘ὁ sa’ae tebe’e horὁnia; auri ia bὁrὁ zatulὁ andrὁ, nifaluania.
23.   Hadia somasi fa’amate zebua horὁ ndra’odo, iwa’ὁ so’aya Yehowa, hadia lὁomasido, na ibὁhὁli mbua-buania silὁsὁkhi andrὁ, ba na auri ia?
24.   Ba na ibὁhὁli wa’atulὁ dὁdὁnia satulὁ tὁdὁ, ba na ilau zilὁsὁkhi simane sogoro ita andrὁ, nilau zebua horὁ, ba lὁ‘ὁ sa’ae guna mbua-buania sisὁkhi andrὁmege; simate ia, bὁrὁ walimosania andrὁ nilaunia, awὁ horὁnia andrὁ nifazὁkhinia.
25.   Banamiwa’ὁ tenga satulὁ wolau Yehowa! Ba mifondrondrongo ya’ami ma’uwu Gizaraeli: Hadia folaugu zilὁatulὁ? Hadia tenga folaumi zilὁatulὁ?
26.   Na ibὁhὁli wa’atulὁnia dὁdὁnia satulὁ tὁdὁ, ba nailau zilὁsὁkhi, ba simate ia bὁrὁ da’ὁ: bὁrὁ wa’amatenia zilὁsὁkhi andrὁ, nilaunia.
27.   Banaibὁhὁli mbuabuania mege sebua horὁ banailau zadὁlὁ ba satulὁ, balὁmate ia.
28.   Meno ibὁhὁli wangerogὁnia andrὁ mege, fefu, ba sauri ia lὁ mate.
29.   Ba na lamane ma’uwu Gizaraeli: Tenga satulὁ wolau Yehowa, ba hadia sindruhu, folaugu zilὁ atulὁ ya’ami ma’uwu Gizaraeli? Hadia tenga folaumi andrὁ Zilὁ atulὁ.

B.      Nibaso Fὁna Huhuo II Timoteo/II Timotius 1: 1-8

1.       Faulo Zanura da’e, Sinenge Keriso Yesu andrὁ, moroi ba nilau dὁdὁ Lowalangi, dali wamabu’u fa’auri andrὁ, ba khὁ keriso Yesu.
2.       Khὁ dimoteo andrὁ, ono omasiὁ khὁnia. Yafalukha’ὁ wa’ebua dὁdὁ, ba fa’ahakhὁ dὁdὁ, ba faohahau dὁdὁ khὁ Lowalangi Ama, ba khὁ keriso Yesu, Soaya Yaita!
3.       U’andrὁ saohagὁlὁ khὁ Lowalangi, nifosumangegu, i’otarai ndra tuaga, lὁ sinegu dὁdὁgu khὁgu, lὁ aetu gὁi itὁrὁ ligu ndraugὁ, namangandrὁ ndra’o bongi ma’ὁkhὁ.
4.       Oi so wehulu dὁdὁgu, ena’ὁ falukhado khὁu, itὁrὁ tὁdὁgu dawa hὁrὁu andrὁ, ena’ὁ fahὁna khὁgu wa omuso dὁdὁ.
5.       Meno tefasugi ba dὁdὁgu wamatimὁ andrὁ, silὁ famini tὁdὁ, sino ofὁna monahia ba dὁdὁ gaweu Loise ba ba dὁdὁ ninau Oinike, ba udὁna dὁna ba dὁdὁu gὁi.
6.       Da’ὁ mbὁrὁ wa ufasugi ba dὁdὁu, ena’ὁ ὁ fado’ὁ game’ela Lowalangi andrὁ, siso ba dὁdὁu, moroi ba wanufa hὁgὁ tangagu.
7.       Tenga sa eheha Lowalangi sada’u da’u nibe’e Lowalangi khὁda, no eheha sabὁlὁ, eheha wa’omasi, eheha bawangonangὁ nibe’enia khὁda.
8.       Ba bὁi aila ndra’ugὁ, wamaduhu’ὁ turia Zo’aya ya’ita, ba bὁi aila’ὁ ba khὁgu andre, nitaha andrὁ khὁnia, nitaha andrὁ khὁnia, yafao ndra’ugὁ wanaha famakao andrὁ, ba duria somuso dὁdὁ andrὁ, dali wa’abὁlὁ Lowalangi.

C.      Huhuo Sebua, Habakuki/HabakuK 1: 1-4, 2:1-4
1.       Taromali, nitema Habakuki sama’ele’ὁ.
2.       Hawa’ara sa’ae u’andrὁ tolo khὁu, ya’ugὁ Yehowa, ba lὁ ὁfandrondrongo: ba wa’ara sa’ae mu’aodo khὁu : Famakao! Ba lὁ‘ὁ ὁtolo!
3.       Hana wa ὁfaila’ὁ khὁgu zilὁ sὁkhi, ba ὁfaigifaigi manὁ gὁi wamakao niha awὁra? Famalangὁgὁ ba famakao zi so ba duduma hὁrὁgu; andrὁ wa notumbu wasosota, ba soso manὁ zui waguaguasa.

4.       Andrὁ wa’ὁlulu wolohe ba lala hadia ia, ba satulὁ, ba lὁ‘ὁ oroma sa’ae. Lafa’u’u sa’ae zatulὁ sebua horὁ andrὁ, andrὁ wa fafuyu huku, na alua

PERIKOP BNKP MINGGU 2 OKTOBER 2016 151 FAKHE DURIA SOMUSO DὁDὁ BA DANὁ NIHA


FANὁRὁ TὁDὁ 151 FAKHE DURIA SOMUSO DὁDὁ BA DANὁ NIHA
(27 September 1865)
-          Femanga Gὁ Ni’amoni’ὁ
Tuho Bawa si-10     :     Ba same’e tanὁmὁ ba zanaru ba ibe’e gὁi gὁ ni’a ba i’oya’ὁ mbua zinanὁmi, ba idou’ὁ lualua wa’atulὁ dὁdὁmi andrὁ.
Tuho Migu da’a      :     Famatimὁ zangorifi Ya’ugὁ
Tὁi Migu                                                                 :     19 Furi Trinitas
La’ala’a Nukha Ni’oguna’ὁ                             :     Sowuge’e/Hijau
Agendre                                                                :     Trinitas
A.      Hezekieli/Yehezikiel                                        18     : 21-29
B.      II Timoteo/II Timotius                                     1       : 1-8
C.      Habakukiὁ/Habakuk                                       1       : 1-4, 2:1-4
D.      Habakukiὁ/Habakuk                                       2       : 4b
·         Ba Zatulὁ tὁdὁ ba ba wamatinia auri ia.
·         Tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya
E.       Buku Zinuno                 :     18              210                  211                  232
Buku Nainὁ                   :     8                 238                  241                  217
Kidung Jemaat  :               247         406         418         407



SEJARAH SINGKAT DATANGNYA BERITA INJIL DI NIAS
WAÖWAÖ WA’ATOHARE DURIA SOMUSO DÖDÖ BA DANÖ NIHA
  1. 1.     Pengantar
Saudara-saudara seiman di dalam Kristus Yesus.
Firman Tuhan berkata: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
  1. 1.     Famörögö
Ya’ami ira talifusö, si sara lala wamati ba khö Keriso Yesu.
Imane Taroma Li Lowalangi: ”Simanö sa wa’omasi Lowalangi nösi gulidanö, no ibe’e Nono-Nia andrö si ha sambua, ena’ö lö tekiko dozi samati khö-Nia, ena’ö so khöra wa’auri si lö aetu” (Yoh 3:16)
 
Kasih Allah di dalam Yesus Kristus tersebut telah melawat dan menyelamatkan masyarakat Nias melalui kedatangan missionaris yang berhasil membawa Ono Niha ke dalam Terang Kristus, yakni Ludwig Ernst Denninger dan misionaris lainnya, yang diutus oleh badan Misi RMG – Jerman.
Kita di BNKP telah menjadikan bulan september sebagai ”September Mission” dan dirayakan sebagai ”Hari Raya Gerejani”, karena pada tanggal 27 September 1865, Denninger menginjakkan kakinya di Pulau Nias untuk membawa Kabar Baik, Injil yang membebaskan dan menyelamatkan.

Fa’omasi Lowalangi ba khö Yesu Keriso, no ofeta ba danöda ba wangorifi ya’ita Ono Niha, ya’ia ba wa’atohare tenge-tenge Mboto Zanuriaigö Turia Somuso Dödö, soroi Geremani nifotöi RMG, ya’ia zotöi Ludwig Ernst Denninger awö ndra tenge-tenga tanö bö’ö si no molohe haga Keriso ba soida Ono Niha.
Ya’ita ba BNKP, no hasara dödö wamali’ö mbawa si siwa tobali ”September Mission”, ba tafalua wuawua dödö, me ba zi 27 mbawa si Siwa 1865, ba da’ö ihundragö Danö Niha Denninger, ba wolohe Turia Somuso dödö, sangefa’aö ba sangorifi ya’ita.
  1. 2.     Apa Yang Terjadi Sebelum Misionaris Datang Ke Nias ?
Ono Niha adalah suku tertua yang mendiami seluruh kepulauan Nias, yang diperkirakan para leluhur telah bermukim dan menyebar di pulau Nias ribuan tahun yang lalu.
Sebelum misionaris tiba, para leluhur kita telah mendirikan ’Banua” dan ”Ori” di hampir seluruh kepulauan Nias, hanya saja terpisah-pisah dan bersifat otonom, bahkan sering terjadi perang antar banua atau antar Öri. Ono Niha yang mayoritas bertani, berburu dan beternak mendasari seluruh aktifitasnya pada kepercayaan kepada dewa-dewa dan melalui ritual dengan media ”Adu” (patung). Kehidupan masyarakat cukup memprihatinkan karena kemiskinan, ketiadaan pendidikan, dan sering dilanda oleh wabah penyakit yang membinasakan, seperti diare, TBC, malaria, dan sebagainya. Tiada andalan mereka selain ”Fo’ere ba Adu”. Singkatnya, para leluhur kita sebelum Injil masuk sangat memprihatinkan dan tinggal dalam kemiskinan dan keterbelakangan.
  1. 2.     Hadia Zalua Fatua Lö Tohare Misionaris ba Danö Niha?
Ono Niha, no soi satua sowanua ba zisagörö Tanö Niha. Töra ngawulu ngahönö fakhe, no monahia wurugö Nono Niha, ba oi muzawili ira ba zi sambua Tanö Niha andre.
Fatua lö tohare zolohe Turia Somuso Dödö, no mowanua ndra furugöda, lafasindro mbanua, lalau gowasa, hewa’ae no fabalibali, ba lö amakhaitara khö nawöra, ba itariana’i alua wasuwöta ba gotalua mbanua, ma ba gotalua nöri. Arakha fefu ira mohalöwö ba danö, ba lafalua göi wamolo awö wo’urifö. Fefu hadia nifaluara ba lafodanedane ba ngawalö ni’olowalangigöra (dwa-dewa), ba lafalua ngawalö wanömba ”Adu”. Ahakhö sibai dödöda ndra furugöda föna, me no toröi ba wa’anuma, mendrua manö me asese itörö ira fökhö solohe ba wa’atekiko (wabah penyakit), simane talu soyo, eha simiwo, malaria, ba tanö bö’önia. Na mu’adogoi’ö wanguma’ö, wa no ba wa’anumana ba toröi furi ndra furugöda föna, fatua lö tohare Haga Zo’aya.
  1. 3.     Bagaimana Sejarah Tibanya Misionaris di Nias
Pada tahun 1822/1823 pernah datang utusan Mission Etrangers (badan Misi Katolik Roma),  bernama Pere Wallon dan Pere Barart, tetapi baru tiga hari setelah berada di Lasara, Gunungsitoli salah seorang meninggal dunia dan tiga bulan kemudian yang seorang lagi meninggal dunia, sehingga belum sempat ada buah pelayanan dari misi mereka. Itulah sebabnya, BNKP menyatakan dan merayakan tanggal 27 September sebagai hari raya misi, dan pekabar Injil bernama Lidwig Ernst Denninger sebagai rasul bagi Ono Niha, karena dia menginjakkan kaki di Nias tanggal 27 September 1865, dan yang berhasil membawa Ono Niha menjadi pengikut Kristus atau menjadi Kristen pada paskah 1874.
Denninger berasal dari Berlin-Jerman. Ia lahir pada tanggal 4 Desember 1815. Ia seorang yang aktif dalam “kebangunan Rohani”, sehingga pada Usia 28 Tahunia tertarik menjadi Misionaris. Ia melamar pada badan zending RMG di Barmen – Jerman, dan setelah diterima, ia dididik menjadi misionaris di Sekolah Zending RMG di Barmen. Setelah menamatkan sekolah zending, pada tahun 1847 ia ditahbis dan diutus menjadi misionaris di Borneo (Kalimantan) di tengah masyarakat Dayak. Pusat Pekabaran Injil waktu itu bertempat di Gohong-Kalimantan.
Setelah 12 tahun melayani di Borneo dan telah mulai menampakkan hasil dengan adanya orang yang dibaptis, tetapi pada tahun 1859, terjadi “pemberontakan Hidayat” yang menyerang semua orang berkulit putih karena dianggap penjajah, termasuk para misionaris. Ada 9 orang dari kalangan misionaris, isteri dan anak yang mati terbunuh. Denninger dan beberapa misionaris lainnya sempat melarikan diri, sehingga lepas dari bahaya kematian. Mereka mengungsi ke Semarang – Jawa Tengah. Lalu badan zending RMG memutuskan mengutus mereka ke Tanah Batak untuk melakukan pelayanan Pekabaran Injil, termasuk Denninger.
RMG memberi tugas kepada Denninger untuk melayani di Barus, sehingga pada tanggal 20 Oktober 1861 ia bertolak dari Batavia menuju Padang dan tiba pada tanggal 21 Nopember 1861. Tetapi, ia tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Tanah Batak, karena di Padang, isterinya sakit keras. Terpaksa mereka tinggal di Padang dengan menyewa sebuah rumah sangat sederhana di kampung Cina – Padang. Di sana ia bertemu dengan Ono Niha yang jumlahnya cukup banyak waktu itu. Ia sering berbicara dengan mereka dan bahkan mempelajari bahasa Nias. Perjumpaan dan interaksi dengan Ono Niha di Padang inilah yang telah membuat dia sangat tertarik untuk datang dan bermisi di Nias. Peristiwa di Borneo dan penderitaan di Padang – telah membawa “berkat” bagi Ono Niha. Semua yang dialami oleh Denninger merupakan tanda dari Allah, tanda keselamatan bagi orang Nias.
Walaupun belum ada persetujuan dari badan misi RMG untuk bermisi di Nias, namun karena keinginan dan tekadnya ke Nias, Denninger mengurus izin dari Gubernur Jenderal di Batavia, sehingga pada tanggal 11 Agustus 1865 ia bertolak dari Padang ke Sibolga lalu ke Nias, dan menginjakkan kaki di bumi Nias pada tanggal 27 September 1865. Pada awal ia tiba ia tinggal di rumah sekretaris pemerintah Belanda, tetapi kemudian ia membeli sebuah rumah di Gunungsitoli, dengan harga 600 gulden. Di sanalah dia dan keluarganya tinggal, bersama anaknya Carolina dan Elias Denninger.

  1. 3.     Hewisa wa’atohare Misionaris ba Danö Niha
Me ba ndröfi 1822/1823 no irai tefatenga misionaris moroi ba Mission Etrangers (badan Misi Katolik Roma),  sotöo  Pere Wallon ba Pere Barart. Bahiza, lö fakhamö mowua wohalöwöra, me ha 3 ngaluo zi samösa, iröi gulidanö börö wökhö, ba tetanö ba mbanua Lasara – Gunungsitoli. Tölu wawa aefa da’ö ba iröi gulidanö si samösa, irege lö nasa so nono niha sifakhamö labayagö Idanö. Da’ö mbörö wa ba BNKP te’amoni’ö ba mutörö tödö zi 27 September, nifotöida ”hari raya misi”, ba tafaduhu’ö wa Denninger no Sinenge ba Nono Niha (Rasul bagi Ono Niha), me ba zi 27 September 1865 ihundragö danö niha, ba ibayagö idanö me owasa fasa döfi 1874.
Denninger andrö, no si otarai mbanua Berlin – Geremani. Tumbu ia me 4 Desember 1815. No samösa si faofao ba ”zekola wangesa dödö” Denninger andre, irege ba ndröfinia si 28 adöni dödönia tobali misionaris. Ifasura’ö döinia ba Mboto Misi sotöi RMG si so ba danö Barmen – Geremani. Me no latema ia, ba labe’e ia ba zekola zending, ba Barmen – Geremani. Me no awai sekolania, ba ndröfi si 1847 tefahowu’ö ia ba tefatenge tobali misionaris ba mbanua Borneo (Kalimantan), ba mbanua Gohong, ba gotalua soi niha Dayak.
Me no 12 fakhe lahalö halöwö ba Borneo, ba no ibörögö mowua, irege so nibayagö idanö, bahiza ba ndröfi 1859 alua ”wamadaö soi Dayak”, lafobanö ba labunu niha safusi uli, melawa’ö ”penjajah”, lö lafaehuni ndra misionaris. So da 9 misionaris, fo’omo misionaris awö ndraono zimate nibunu ba wamadaö andrö. Ira Denninger awö misionaris tanö bö’ö, no fakhamö moloi, lasawagö Semarang – Jawa Tengah. Moroi ba da’ö, ihalö gangetula RMG wamöhöi gasagasa halöwö Fanuriaigö turia Somuso dödö ba Borneo, ba lafatenge ndra misionaris ba Danö Mbata, wolohe Turia Wangorifi andrö ba gotalua soi niha mbata, fao Denninger ba da’ö
No ihalö gangetula RMG wamatenge Denninger ba Barus. Andrö me 21 Oktober 1861, iröi Batavia numalö ba Padang, ba ofeta ia me 21 Nopember 1861. Bahiza me no ofeta ia ba Padang, tebai itohugö wofanönia ba danö Mbata, me abölöbölö wökhö wo’omonia. Andrö wa isewa nomo side’ide ba zotöi ”Kampung Cina”. Ba danö falukha ia Nono Niha. Adöni dödönia khöra me faehu faoma niha Wada. Andrö adöni dödönia wangi’ila Li Nono Niha ba Wada andrö. No adönia sibai dödönia ba walukhatania faoma Ono Niha, ba da’ö zolohe ya’ia ba wangai angetula wamalua halöwö wanuriaigö Turia Somuso Dödö ba Danö Niha. Salua ba Borneo, ba ngawalö wamakao sifalukha ia ba Wada, no solohe ”Howuhowu” ba Nono Niha. Fefu zifalukha ya’ia, no tanda da’e ba wolohe turia wangorifi andrö ba gotalua Nono Niha.
Hewa’ae lö si so zura wefao dödö RMG wamatenge ya’ia ba Danö Niha, bahiza börö wa’adöni dödönia we’amöi ba Danö Niha, andrö i’andrö zura izi khö zamatörö Balanda si si ba Batavia. Me no isöndra fewao dödö Gubernua Jenderal, andrö ba zi 11 Agustus 1865 iröi Wada, numalö ba Ziboga awena adölö ba Gunungsitoli. Ihundragö Danö Niha me 27 September 1865. Me awena irugi, toröi ia ba nomo Sekretaris Pemerintah – Balanda, bahiza lö ara aefa da’ö, i’öli nomo ba Gunungsitoli, fa’ebua mböli 600 firö. Ba da’ö toröia ia awö wo’omonia ba darua nononia, Carolina faoma Elias Denninger.

  1. 4.     Bagaimana perkembangan Berita Injil di Nias?
Denninger memulai pekerjaan dengan meningkatkan pengetahuan dan kecakapan bahasa Nias, apalagi karena bahasa yang dipelajarinya di Padang lebih bercorak dan berdialeg Nias Selatan. Ia terus belajar melalui interaksi dengan Ono Niha. Setelah bisa berkomunikasi, walaupun sangat terbatas,  ia memulai dengan pendidikan. Ia mengumpulkan anak-anak dan mengajar mereka tentang menulis, membaca dan berhitung.
Selain pendekatan pendidikan, ia juga membantu masyarakat yang menderita berbagai penyakit, dengan memberikan obat-obatan sambil berdoa. Dalam melakukan pelayanan kesehatan ia sering bertentangan dengan para ”Ere” atau ”dukun” yang juga melakukan penyembuhan dengan ritus-ritus terhadap Adu dan memantra obat-obat tradisional yang digunakan. Denninger juga melakukan perkunjungan kepada para Salawa sambil memberitakan kabar baik.
Setelah 6 tahun melakukan pelayanan, maka pada suatu minggu di bulan april 1871 – terdapat sekitar 140 orang yang datang mengikuti kebaktian minggu yang dipimpin oleh L.E. Denninger. Orang Nias mau datang, tetapi dengan harapan bahwa selesai kebaktian mereka akan mendapat tembakau, obat-obatan dan uang sebesar 3 rimis. Sedikit melegakan hati Denninger bahwa RMG mulai memberi perhatian ke Nias dengan mengutus Wihlem Thomas  yang tiba di Nias tanggal 14 Februari 1872 dan disusul oleh Friedrich Kramer pada tanggal 1 April 1873. Inilah yang membantu Denninger, baik di sekolah maupun di pelayanan Pekabaran Injil. Memang sulit, tetapi pada akhirnya, hati orang Nias terbuka untuk Injil. Masyarakat asal Hilina’a dan Onozitolisebanyak 25 orang (termasuk keluarga Salawa Yawaduha) memberi diri dibaptis pada kebaktian Paskah, tanggal 5 April 1874 di Gereja (Lods) Gunungsitoli. Pembaptisan ini dilaksanakan oleh Denninger (untuk 12 orang) dan oleh Kramer (bagi 13 orang). Inilah orang Nias yang ada di Nias yang pertama sekali menerima Injil dan memberi diri dibaptis menjadi Kristen. Tidak berhenti sampai di sana, semasih Denninger berada di Nias, pada tanggal 23 Agustus 1874 terdapat 19 orang yang telah mengikuti katekisasi,  memberi diri dibaptis. Peristiwa ini menyukakan hati Denninger, sehingga ia mendesak RMG untuk meningkatkan jumlah missionaries yang diutus melayani di Nias.
Sungguh besar jasa Denninger bagi kekristenan di Nias. Selain berhasil membaptis, ia juga sempat membuat materi pelajaran bagi anak-anak dan menerjemahkan Alkitab, khusus Injil Lukas. Setelah itu, Denninger yang sudah berumur 60 tahun mulai menderita penyakit, sehingga ia pergi cuti ke Batavia pada tahun 1875. Ia tinggal di rumah menantunya (suami Calolina, seorang pegawai pemerintah Belanda yang sudah pindah dari Nias ke Bogor).  Pada awalnya hanya rencana cuti dan masih ada keinginan melanjutkan pelayanan Missi di Nias, namun karena penyakit yang parah dan tak terobati, akhirnya L.E. Denninger meninggal dunia pada tanggal 22 Maret 1876, serta dikebumikan di kuburan dekat anaknya tinggal, yakni di wilayah Bogor.
Kalau melihat perjalanan misi di Nias, maka dapat dipetakan sebagai berikut: Pada 25 tahun pertama (1865-1890), kekristenan di Nias hanya dapat berkembang di wilayah pemerintahan sipil Belanda, yang disebut Rapatgebiet. Jemaat berdiri di Gunungsitoli, Dahana, Ombölata dan Faekhu. Sudah dicoba di beberapa tempat di luar rapatgebiet, yakni di Fagulo dan Bawolowalani, tetapi gagal dan Ono Niha di wilayah tersebut bertahan dengan kepercayaan dan kebudayaan lama. Tetapi pada kurun waktu 25 tahun kedua (1890-1915), seiring dengan penetrasi Kolonial Belanda ke pedesaan dengan menumpas para pemberontak dan membuka jalan dengan rodi, maka usaha Pekabaran Injilpun masuk ke berbagai wilayah kepulauan Nias. Untuk wilayah utara misi masuk ke Bo’usö, Awa’ai, Sowu dan kemudian Hilimaziaya sebagai pusat penginjilan di sekelilingnya. Di belahan Timur, misi masuk melalui Humene – Sogae’adu – Bawalia. Di bagian tengah, misi masuk melalui Lölöwua dan Sifaoro’asi. Ke wilayah barat, misi penetrasi ke Tugala-Lahömi/Fadoro, Lahusa, Lolowa’u, Lahagu – Oyo, Lolomoyo dan kemudian Lawelu.  Sedang ke belahan Nias Selatan, misi masuk melalui Hilisimaetanö dan Sa’ua; sedangkan ke pulau-pulau Batu, misi dari Bedan Misi Lutheran  Belanda yang melayani di sana.
Pada 25 tahun ketiga (1916-1940) yang dikenal dengan akhir zaman zending, kekristenan di Nias berkembang sangat pesat yang didukung oleh gerakan pertobatan massal yang menyebar di seluruh kepulauan Nias pada tahun 1916-1930. Pada tahap 25 tahun terakhir inilah Ono Niha secara keseluruhan meninggalkan agama lamanya, dan masuk agama Kristen, yang dilembagakan melalui sidang sinode 1 tahun 1936, dengan nama Banua Niha Keriso Protestan (BNKP). Akhir zaman zending ini adalah tahun 1940, ketika terjadi Perang Dunia Kedua, dimana seluruh misionaris ditawan oleh tentara belanda dan kembali ke negerinya. Dengan demikian, sejak tahun 1940 hingga sekarang BNKP dipimpin, digembalakan dan dilayani oleh Ono Niha.
  1. 4.     Hewisa Halöwö Duria Somuso dödö ba Danö Niha?
Ba wamörögö halöwö Fanuriaigö, ifa’anö ia Denninger ba wahuhuosa ba Li Nononiha, me irasoi wa Li si no i’ila me so ia ba Padang no mo’amböta sibai, mendrua manö me Li moroi ba mafi tanö raya. Me no ibörögö i’ila Li Nono Niha ba Gunungsitoli, andrö ibörögö wangowuloi iraono ba wamahaö ya’ira ba Wombaso, Fanura ba Fangerai.
Baero halöwö famahaö, ifalua göi halöwö fame’e dalu-dalu ba zofökhö, ba i’angandröi. Asese fatiti ira ndra Ere faoma Duku ba wame’e daludalu andre, bahiza döhö zofökhö moroi ba daludalu sifao fangandrö moroi khö Denninger, ba soyania lö döhö nifalua gere ma duku. Baero da’ö, owölö’ölö göi Denninger andre wangondrasi ba fahuohuo khö ndra Salawa. Itunö khöra duria somuso dödö.
Me no 6 fakhe ihalö halöwö fanuriaigö Denninger, ibörögö oroma mbua, ya’ia me migu ba April 1871, so ma to 140 niha si möi ba kebaktian minggu nidönia’ö Denninger, hewa’ae ato zimöi börö ba wangakali bago, daludalu, ba lasöndra gefe fa’ebua 3 rimi. Itugu tedou halöwö andre, me ba zi 14 Februari 1872 tohare Wilhem Thomas, ba itete Friendrich Kramer ba zi 1 April 1873. Ya’ira andre zanolo Denninger ba wangai sekola, awö halöwö fanuriaigö. Moroi ba da’ö fefu, ba mowua Daroma Li Lowalangi ba wa’auri zamondrongo, irege tefalua wamayagö idanö si föföna ba zi 25 niha soroi mbanua Hilina’a (fao zalawa Yawaduha), ba moroi ba mbanua Nono Zitoli. Tebayagö idanö ira me 5 April 1874 ba lods Gunungsitoli. Famayagö idanö andre lafalua ira Denninger faoma Kramer. 12 Niha ibayagö idanö Denninger, ba 13 niha nibayagö idanö nifalua Kramer. Ya’ira andre Niha Keriso siföföna ba Danö niha. Ba tenga ha da’ö, tefatohu wamayagö idanö andre ba zi 23 Agustus 1874 khö ndra si 19 niha. Fefu zalua andre, ba no tobali omusola dödö, he Denninger ba simanö göi mboto zamatenge ya’ira moroi ba danö Geremani. Andrö ibe’e gangandröwania Denninger khö RMG ba danö Geremani, ena’ö la’oya’ö lafatenge misionaris sohalöwö ba Danö Niha.
No ebua sibai halöwö nifalua Denninger ba Danö Niha. Baero wa no so nibayagö idanö, ba fakhamö göi ia wangehao buku wamahaö ba ndraono sekola, ba i’ali zura duria Somuso Dödö nisura Luka, ba li Nono Niha. Me no 60 fakhe ndröfinia, ba göna ia fökhö, irege ihalö wolombase, möi ira ba Bogor, ba toröi ira khö numönönia (fagawe Balanda, sohalöwö ba Bogor). Ha ”folombase sabata gohitönia, aefa da’ö omasi ia mangawuli ba Danö Niha”, bahiza börö me tebai tedaludalunia sa’ae wökhö si no göna ba mboto, andre ba zi 22 Maret 1876, iröi gulidanö, ba tetanö mbotonia ba Lewatö Soya, si so ba Bogor.
Na ta’osisi’ö waöwaö halöwö misi nifalua ndra misionaris, ba tola mufosasi ia tölu faosatö. Ba zi 25 fakhe si föföna (1865-1890), ba no ahou sibai wa’ateboloso duria somuso dödö. Ha ba wilayah wamatörö Balanda, nifotöi Rapatgebiet, ya’ia da’ö ba Gunungsitoli, Dahana, Ombolata ba Faekhu. No irai mutandraigö ba Fagulö faoma Bawölowalani, bahiza lö mo’ölö. Awena me ba zi 25 fakhe sidua, ibörögö teboloso duria somuso dödö. Me ba ginötö da’ö, ba ibörögö halöwö famatörö Balanda, ifahono zamadaö, ibokai lala faoma halöwö rodi, ba i’atulö’ö mbanua sifa’udu. Teboloso göi Duria somuso dödö ba zi sagörö tanö. Ba mafi tanö yöu, ba Mbo’usö, Awa’ai, Sowu, ba ba Hilimaziaya awö sifasuinia. Ba mafi tanö ba gatumbukha luo, ya’ia ba Humene, Sogae’adu ba Bawalia. Tanö ba gotalua, ya’ia ba Lölöwua faoma Sifaoro’asi. Tanö ba gaekhula, ya’ia ba Dugala-Lahömi/Fadoro, Lahusa, Lölöwa’u, Lahagu – Oyo, Lölömoyo ba Lawelu. Ba mafi tanö raya, teboloso ba Hilisimaetanö faoma ba Za’ua. Ba ba Hulo Batu, ira misionaris moroi ba mboto misi Lutheran Belanda zi möi ba da’ö.
Ba zi 25 fakhe sitölu (1916-1940), periode si’afuri ba ginötö zending. Ba ginötö da’e ba alua wa’atedou mbanua niha Keriso, mendrua manö me itörö Fangesa Dödö Sebua, salua ba zi sagörö Tanö Niha me döfi 1916-1930. Ba zi 25 fakhe afuriata andre, arakha fefu Nono Niha no laröi ”Nadu”, sifaduhu dödöra föna, awö ngawalö hada ndra tua, ba lasawagö agama sibohou, ya’ia Niha Keriso. Börö da’ö, teföfö’ö ba tefasindro sa’ae Mbanua Niha Keriso ba sinode siföföna me döfi 1936, irege te’osambua’ö fefu zamati ba organisasi sotöi Banua Niha Keriso Protestan, te’adogoi’ö BNKP, nidönia’ö Misionaris A. Luck. Bahiza me döfi 1940, me alua wasuwöta nifotöi Perang Dunia si-2, halöwö fangombakha, fokubaloi ba fondrönia’ö, tebe’e ba danga ndra sohalöwö, Ono Niha.

  
  1. 5.     Penutup
Demikianlah sejarah singkat kedatangan dan pertumbuhan Injil di Nias pada zaman zending. Misi telah membebaskan, mendamaikan,  menyelamatkan dan mempersatukan kita masyarakat Nias. Oleh karenanya, melalui perayaan misi dan reformasi, kita perbaharui tekad dan bentuk pelayanan untuk terus bermisi berdasarkan konteks dimana kita berada. Kita melayani untuk 5 tahun ke depan ini menurut Program Umum Pelayanan BNKP. Tuhan memberkati. Selamat bermisi.

  1. 5.     Fondruhö
Simanö waöwaö wa’atohare ba fa’ateboloso duria somuso dödö ba danö niha, ba ginötö Zending. Turia somuso dödö andre, ba no mowua, i’ohe wangefa, fangatulö, fangorifi ba fangosambua’ö ya’ita Ono Niha. Andrö börö da’ö ba wamalua perayaan misi dan Reformasi, tekaoni ita ba wamohouni halöwöda, wamalua halöwö misi, molo’ö inötö si so ya’ita. Tafalua ba zi lima fakhe fönada andre, molo’ö Program Umum Pelayanan BNKP. Ya’ihahowu’ö ita Lowalangi. Ya’ahowu.